Banyak Hotel Dijual karena Pemilik Tak Mampu Bertahan Saat Pandemi, Ini Saran Senator Alex

Alexander Fransiscus (foto istimewa)
Bagikan

JAKARTA – Industri perhotelan sangat terdampak pandemi virus Corona (Covid-19) hingga banyak yang bertumbangan. Komite II DPD RI yang salah satu bidang pekerjaannya terkait masalah perindustrian meminta pemerintah pusat memberikan solusi bagi para pengusaha perhotelan.

“Perlu ada atensi khusus dengan adanya fenomena penjualan hotel harga miring saat pandemi. Pemerintah harus memberikan solusi dari terhimpitnya para pengusaha perhotelan, khususnya hotel-hotel skala kecil dan menengah,” ungkap anggota Komite II DPD RI, Alexander Fransiscus, Senin (8/2/2021).

Bacaan Lainnya

Indonesia Property Watch (IPW) mengungkap saat ini fenomena hotel-hotel dijual sedang marak terjadi, bahkan sejak pertengahan 2020. Hotel-hotel dijual dengan harga sangat murah karena pemiliknya tak lagi mampu mempertahankan usahanya akibat sepinya tingkat keterisian (okupansi rate) hotel saat pandemi COVID-19.

“Padahal bisnis hotel masih sangat menjanjikan untuk jangka panjang, apalagi jika lokasinya berada di tempat wisata. Sangat disayangkan jika hotel dijual dengan harga yang cukup jatuh,” kata Alexander.

Menurut IPW, hotel-hotel dijual karena si pemilik tidak lagi mampu membiaya operasional yang besar, di saat pemasukan sangat kecil. Akibatnya mereka merugi sehingga tidak lagi bisa bertahan.

Sementara itu menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), keputusan menjual hotel dilakukan lantaran pengusaha sudah tak lagi memiliki amunisi untuk mempertahankan tempat usahanya di tengah pandemi Corona. Alexander menyebut, perlu ada langkah taktis yang menyelamatkan industri perhotelan.

“Perhotelan memang menjadi salah satu sektor yang terhempas karena Corona. Pemerintah sebenarnya sempat memberikan dana hibah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tapi rupanya masih ada industri hotel yang tak bisa bertahan,” kata senator daerah pemilihan Bangka Belitung (Babel) itu.

BACA JUGA :  Komite II DPD Nilai Perpanjangan Insentif Pajak Ringankan Beban Kalangan Usaha

Kemenparekraf sendiri banyak diharapkan bisa menyelamatkan bisnis hotel yang sudah porak-poranda. Melalui program-programnya, Kemenparekraf menjadi salah satu pihak yang dinantikan memberi angin segar bagi industri perhotelan.

“Program-program pariwisata dan ekonomi kreatif bisa mendongkrak pariwisata yang pada akhirnya berdampak pada bisnis perhotelan. Tentunya dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan Covid,” tutur Alexander.

Industri perhotelan juga menjerit karena pemerintah daerah masih menerapkan pungutan pajak di tengah pandemi Corona. Kondisi ini yang dinilai sangat memberatkan pengusaha perhotelan karena untuk operasional saja mereka sudah sangat kesulitan, ditambah lagi pungutan pajak yang kian mencekik sektor perhotelan.

Menurut Alexander, pemda sebaiknya menerapkan keringanan pajak kepada para pelaku bisnis perhotelan. “Karena pemda tahu betul bisnis perhotelan sangat terdampak akibat kebijakan pembatasan yang diterapkan di daerah-daerah dalam penanganan pandemi. Pemda seharusnya mengerti kondisi perhotelan seperti apa, bahkan banyak hotel-hotel yang gulung tikar,” kata salah satu senator muda ini.

Bagikan

Pos terkait