Dirut Pupuk Kaltim Bakal Evaluasi Penggunaan Pupuk

Bagikan

Jakarta – Produksi pangan Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Produksi padi stagnan di angka 59 juta ton per tahun selama periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo, lalu turun menjadi 54 juta ton pada 2019. Jika dirata-rata sejak 2015 hingga 2019, tiap tahun ada penurunan produksi padi sebesar 0,22%.

Hasil mengecewakan, menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), juga dicatat oleh komoditas pertanian lainnya. Kedelai bahkan mengalami kekosongan hingga menyebabkan kelangkaan tahu dan tempe.

Bacaan Lainnya

Kenyataan ini membuat Presiden Jokowi mempertanyakan manfaat dana triliunan rupiah yang digelontorkan dari kas negara untuk subsidi pupuk.

Di tengah turunnya produksi pangan, anggaran subsidi pupuk justru konsisten naik. Menurut data Kementerian Keuangan, pada 2014 dialokasikan subsidi Rp21,04 triliun dan lima tahun berikutnya telah naik menjadi Rp34,3 triliun. Selama periode pertama pemerintahan Jokowi, subsidi pupuk sudah menghabiskan uang negara sebesar Rp175 triliun.

Direktur Utama PT Pupuk Katim Rahmad Pribadi menyoroti pola penggunaan pupuk oleh petani yang seringkali kurang berimbang. Menurutnya, besarnya penggunaan pupuk tidak selalu ekivalen dengan tingginya produksi. “Bila pupuknya kelebihan produktifitas tanaman justru menurun,” katanya, Jumat (15/01/2021).

Rahmad menjelaskan, banyak petani di Indonesia hanya mengandalkan naluri dan pengalaman dalam menggunakan pupuk. Banyak di antara petani tradisional menganggap semakin banyak pupuk yang ditaburkan akan semakin besar pula hasil panennya.

Terkadang petani mencampurkan satu jenis pupuk dengan jenis lainnya secara eksperimental, yang kandungan kimianya bisa berkebalikan reaksi. Hal itu dapat menimbulkan tingginya biaya tetapi menurunkan produksi.

Penggunaan pupuk berlebih, lanjut Rahmad, dapat mengganggu mikroorganisme dalam tanah karena keasamannya meningkat. Bila sudah begini tekstur tanah cenderung lebih keras dan tidak gembur.
Aktivitas mikroorganisme di dalam tanah bisa terganggu karena kandungan magnesium dan kalsium yang berlebihan dari taburan pupuk yang tak terukur.

BACA JUGA :  Tanda ‘SOS’ di Pulau Laki Bikin Gempar Netizen, Penumpang Sriwijaya Air?

Peraih gelar Master of Public Administration dari Harvard University ini meminta produsen pupuk tidak hanya melepas produknya ke pasar, tetapi memberikan asistensi teknis penerapannya.

Saat ini beberapa produsen telah melakukan pendampingan terhadap petani, walaupun belum merata di seluruh Indonesia. Pupuk Kaltim misalnya, memperkenalkan tata cara pemupukan berimbang kepada puluhan petani.

Upaya itu dilakukan sepagai upaya mendongkrak produktivitas hasil pertanian. Di Gorontalo, produksi padi dan jagung dapat dimaksimalkan setelah dilakukan pendampingan kepada petani. Tahun 2020 lalu provinsi Gorontalo berhasil mengekspor jagung dan tetes tebu (molase) dengan volume masing-masing 12.000 ton dan 11.700 ton dengan nilai ekspor total Rp77.2 milyar. (Mjr/IJS)

Bagikan

Pos terkait