Elon Musk Tegaskan Mobilnya Tak Ada Hubungan Dengan Aktivitas Mata-mata AS

CEO Tesla Elon Musk. (Foto: indiatoday.in)
Bagikan

Jakarta – Perusahaan mobil listrik asal Amerika Setrikat (AS), Tesla, tengah mendapat tekanan dari pihak militer China karena dituduh sebagai alat mata-mata. Mengetahui hal ini, Elon Musk selaku bos Tesla mengaku geram, dan melakukan pembelaan dengan membantah semua tuduhan itu.

Ia juga mengatakan, jika mobil Tesla terbukti dijadikan alat untuk memata-matai pemerintah China, maka perusahaan akan ia tutup.

“Ada dorongan yang sangat kuat bagi kami untuk sangat merahasiakan informasi apa pun. Jika Tesla menggunakan mobil untuk memata-matai di China atau di mana pun, (perusahaan) kami akan tutup,” kata Musk.

BACA JUGA :  Remaja 16 Tahun di Jogja Bobol Rumah Makan Padang, Gondol Rp3 Juta

Sebelumnya militer China melarang mobil Tesla memasuki markasnya, dengan alasan kekhawatiran keamanan atas kamera yang terpasang di kendaraan. Selain itu beberapa karyawan perusahaan milik negara juga dilarang menggunakan mobil listrik Tesla.

Pemerintah China khawatir, data yang dikumpulkan oleh mobil Tesla, seperti gambar yang diambil oleh kamera mobil, dapat dikirimkan ke Amerika Serikat (AS).

Melalui sebuah tautan video ke konferensi Beijing mengenai Forum Pembangunan China yang digelar pemerintah, Musk menjelaskan, jika sebuah bisnis melakukan kegiatan mata-mata terhadap pemerintah asing, akan berdampak buruk bagi perusahaan.

BACA JUGA :  Bukan Kaki, Polisi Tembak Pantat Pelaku Pencurian dan Pembunuhan di Bali

Dalam sambutannya, Musk bersikeras tidak ada perusahaan Amerika Serikat (AS) atau China yang mengambil risiko dengan mengumpulkan data pribadi dan membagikannya dengan pemerintah.

“Apakah itu China atau AS, efek negatif jika perusahaan komersial terlibat dalam aktivitas mata-mata itu akan sangat buruk,” kata Musk.

Pria terkaya nomor dua di dunia ini pun mendesak ada rasa saling percaya yang lebih besar antara China dan Amerika Serikat (AS) untuk menjalin kerja sama bisnis yang sehat.

BACA JUGA :  Pria Ini Tertangkap Basah Mengutil di Matahari Citimall Prabumulih

Sebagai informasi, perusahaan Tesla mendapat persetujuan untuk membangun pabriknya di Shanghai pada 2018. China sendiri menjadi pasar Tesla terbesar kedua di dunia setelah AS dan pemerintahnya gencar mempromosikan adopsi kendaraan listrik.

Untuk tahun 2020, penjualan perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan hingga 721 juta dolar AS. Untuk tahun 2021, Telas berharap mampu menjual hingga 200 ribu unit kendaraan di China. (Zak/IJS)

Bagikan

Pos terkait