Pentingnya Modal Sosial dalam Meringankan Beban Warga Korban Bencana.

Bagikan

Betapa  berat beban warga yang sedang tertimpa bencana. Penderitaan mereka berlipat,  karena kesulitan makanan, pakaian, tempat tinggal, sarana MCK, obat-obatan, dan sebagainya.

Mereka terpaksa harus  mengungsi ke tampat yang alebih aman, tanpa membawa perbekalan memadai. Hanya pakaian yang melekat di badan saja.
Dalam kondisi seperti ini, korban lebih besar bisa berjatuhan karena penyakit dan kelaparan.

Kondisi serba kekurangan tersebut terjadi lantaran wilayah bencana mengalami kerusakan parah, bangunan-bangunan banyak yang roboh, rumah tenggelam, jalan terputus, dan sebagainya. Semua aspek kehidupan berada dalam kondisi kedaruratan.

Selain itu, warga yang tertimpa bencana sedang berada dalam kondisi psikologis yang lemah, karena mereka berada dalam kecemasan dan ketidakpastian, perasaan mereka terancam dan ketakutan. Rasa khawatir datangnya musibah berikutnya seperti gempa susulan atau tsunami, wabah penyakit, senantiasa menghantui mereka.

Menghadapi keadaan darurat seperti ini dibutuhkan uluran tangan dari semuai pihak. Tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah, tetapi juga dari sesama warga masyarakat.

Pengalaman di Indonesia menujukkan bagaimana antusiasme warga dari berbagai pelosok mengirimkan bantuan bila terjadi bencana. Melalui sumbangan individu, organisasi, perusahaan, bergabung menjadi sangat besar dalam meringankan beban korban. dari sumbangan yang tadinya kecil, ribuan, jutaan, lalu terkumpul manjadi milyaran.

BACA JUGA :  Banyak Hotel Dijual karena Pemilik Tak Mampu Bertahan Saat Pandemi, Ini Saran Senator Alex

Belum lagi sumbangan tenaga dan keahlian. Tidak sedikit relawan baik individu maupun kelompok turun langsung ke wilayah bencana. Dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian, diantaranya ada yang dokter, ahli bangunan, mahasiswa dan sebagainya. Mereka bekerja secara sukarela dan sikap penuh pengobanan yang tinggi.

Sikap dan kebiasaan seperti inilah yang disebut oleh para ahli sebagai modal sosial (social capital). Menurut Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Perancis, modal sosial adalah sumberdaya yang terdapat pada individu maupun kelompok masyarakat yang terhubung dalam sebuah jaringan (network), yang terkait dalam relasi yang bersifat institusional maupun non-institusional, dan saling menguntungkan satu sama lain.

Francis Fukuyama, melihat modal sosial sebagai norma-norma yang membentuk jalinan kerjasama antara dua atau lebih individu. Norma ini bisa merupakan interaksi antar individu, baik dalam bentuk yang sederhana seperti pertemanan, maupun yang lebih kompleks seperti keyakinan yang hidup dalam masyarakat. Norma ini hidup berlandaskan pada kejujuran, komitmen, serta keterikatan satu sama lain, sehingga membentuk kerjasama dalam komunitas masyarakat. Fungsi ekonomi dari social capital adalah untuk mengurangi biaya transaksi (transaction costs),

Patut disyukuri, berangkat dari berbagai pengalaman menghadapi bencana, bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat. Melalui semangat gotong royong, dari bencana berskala kecil seperti banjir kampung, bencana daerah, bencana nasional, hingga bencana bencana berskala internasional seperti Tsunami Aceh, masyarakat Indonesia menujukkan solidaritasnya. Sikap gotong royong tersebut merupakan tindakan positif, prliaku hidup bersama, yang sudah melembaga.

Tak terhitung, telah berapa banyak kontribusi masyarakat dalam meringankan beban negara dalam mengatasi bencana yang terjadi. Hampir dapat dipastikan, pemerintah tak akan sanggup mengatasinya permasalahan bencana tanpa peranan modal sosial.

Untuk menghitung berapa jumlah modal sosial yang dimiliki sebuah entitas masayarakat atau negara, Fukuyama menyaranakan metode sederhana. Caranya adalah dengan menghitung berapa cost yang harus dikeluarkan oleh pemerintah atau negara, tanpa kehadiran modal sosial, itulah gambaran besarnya modal sosial yang dimiliki suatu bangsa.

Kalau kita mengambil contoh bencana, untuk menghitung berapa besar keterlibatan modal sosial dalam bencana tersebut, caranya adalah dengan menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan tanpa modal sosial, atau sebut saja partisipasi publik.

Tentu saja jumlahnya sangat besar. Itulah alasannya, mengapa menjadi sangat penting untuk merawat modal sosial yang dimiliki oleh suatu bangsa. Karena modal adalah kekayaan yang tak ternilai. Pemerintah tak akan sanggup mengatasi semua bencana tanpa bantuan peran modal sosial.

Fukuyama mewanti-wanti agak setiap orang atau kelompok untuk menjaga modal sosial tersebut. Musuh dari modal sosial adalah melemahnya kepercayaan, disebut Fukuyama sebagai radius kepercayaan (radius of trust). Modal sosial bisa saja hancur jika saling kepercayaan sirna antara individu atau kelompok.

BACA JUGA :  Bustami Zainuddin Apresiasi Desa Mataram Baru Lampung Timur, Dukung Daerah Lain Kembangkan Potensi

Pengelolaan bantuan yang terkumpul dari ribuan bahkan jutaan orang, tidak dapat diabaikan atau dianggap sepele. Pengelolaan yang salah urus, atau prilaku moral hazard, dapat menciptakan preseden buruk untuk pengumpulan bantuan untuk bencana berikutnya yang terjadi. Hal-hal seperti ini secara jangka panjang akan merusak modal sosial yang sudah terbangun.

Sangat disayangkan apabila modal sosial yang sudah kuat mengalami gangguan atau kehancuran. Padahal modal sosial tersebut sudah dibangun sangat lama, dari nilai-nilai luhur bangsa. Nilai-nilai luhur yang mengakar dari budaya, tradisi, dan agama. (ilp/ijs)

Bagikan

Pos terkait